Kendaraan PHEV Pertama di Indonesia

Kendaraan PHEV Pertama di Indonesia

Pengisian daya kendaraan listrik

PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI) telah memperkenalkan salah satu mobil ramah lingkungan andalannya, mobil plug-in hybrid, Mitsubishi Outlander PHEV (Plug-in Hybrid Electric Vehicle).

Mobil yang dibanderol Rp 1.294.000.000 ini mengusung teknologi plug-in hybrid atau kombinasi mesin bakar dan motor listrik yang baterainya bisa dicas langsung di instalasi listrik rumah. Selain itu, teknologi plug-in hybrid juga memungkinkan mobil ini berlari hanya dengan mengandalkan tenaga listrik.

Ketika pertama kali masuk ke kabin Outlander PHEV, kesan mewah langsung terpancar. Ada lapisan kulit sampai material serat karbon di dalam mobil. Terlebih, mobil ini cukup senyap. Meski mesin sesekali menyala untuk mengisi ulang daya baterai, gerungan suaranya tak begitu mengganggu sampai dalam kabin.

Mitsubishi Outlander PHEV menggendong mesin bensin 2.4 liter. Mesin itu dikombinasi dengan motor listrik yang punya tenaga 60 kW di roda depan dan 70 kW pada roda belakang. Soal tenaga, mesin konvensional bisa memuntahkan tenaga maksimal 132,8 dk dengan torsi 211 Nm.Interior Outlander-PHEV

Outlander PHEV dikatakan menjadi salah satu mobil plug-in hybrid yang unik, sebab memiliki tiga mode berkendara, yakni mode EV, mode HEV, dan juga mode Parallel Hybrid.

Pada mode EV, mobil akan bergerak dengan tenaga listrik yang dialirkan dari baterai ke motor listrik di roda depan dan belakang. Kami ingin membuktikan seberapa jauh mobil melaju dengan tenaga listriknya saja.

Posisi baterai saat itu dalam kondisi sekitar 80%. Di mode EV, ketika baterai di bawah 20%, maka mesin bensin akan menyala untuk membantu mengisi ulang daya baterai. Sejauh 35 km, mobil ini hanya melaju dengan motor listriknya saja. Selama itu pula mesin bensin sama sekali tidak menyedot bensin.

Jarak sejauh itu dirasa cukup untuk mobilitas perkotaan yang tidak perlu menempuh perjalanan jauh. Mitsubishi mengklaim baterai yang menyuplai tenaga ke motor listriknya bisa membawa mobil melaju sejauh 55 km.

Setelah 35 km, mesin bensin kemudian menyala. Mesin menyala untuk kembali mengecas baterai. Mesin konvensional berperan mirip generator. Mesin akan mengisi ulang baterai sampai kondisi 80%. Fungsi mesin yang menyala itu bukan menggerakkan roda, melainkan untuk mengisi ulang daya baterai, seperti sebuah generator.

Rasanya mengendarai Outlander PHEV, mobil terasa cukup nyaman karena benar-benar senyap. Meski mesin menyala, getaran mesin tak terdengar bising ke dalam kabin.

Namun, kesenyapan itu mungkin juga menjadi poin negatif. Karena orang-orang di sekitar bisa jadi tidak menyadari ada mobil yang melaju.

Dengan penggerak listrik di roda depan dan belakang, mobil ini sangat responsif. Karena mengandalkan tenaga listrik yang torsinya cukup besar, sekali tekan pedal gas m

 

obil langsung meluncur, tidak seperti mobil bermesin bakar lainnya yang kemungkinan memiliki jeda akselerasi.

Poin positif lainnya, Outlander PHEV ini cukup efisien. Head of PC Product Planning Section PT MMKSI, Hanif Risky, mengatakan sebelumnya timnya sempat menguji coba mobil ramah lingkungan ini untuk mengetahui seberapa jauh bisa melaju. “Itu total tempuh 695 km, full baterai dan full bensin. Sebenarnya itu masih bisa jalan, cuma pas diisi ulang lagi bensinnya udah bisa terisi 45 liter lagi,” ujar Hanif.

Namun, dengan teknologi terkini, Outlander PHEV terbilang cukup mahal. Harganya tembus di atas Rp 1 miliar, tepatnya Rp 1.294.000.000. Sayangnya, karena masih menggendong mesin bensin, Outlander PHEV tidak mendapat keringanan bea balik nama (BBN) di Jakarta.

Leave A Reply---

Back to top